Pekan Ini, Kontesasi Politik 2024 Jadi Sangat Ramai

Ilustrasi Kontesasi Politik 2024 Sangat Ramai

Belakangan ini, terdapat sebuah peristiwa politik indonesia yang sungguh heboh. Hal ini terkait dengan kontesisasi politik 2024. Salah satunya adalah pertemuan Ketua DPP PDI Perjuangan, Puan Maharani dengan Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Selain itu, Partai Gerindra menggelar Kongres Luar Biasa yang ikut mengundang Presiden Joko Widodo dan Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarno Putri. Keduannya, memberikan sambutan pada pagelaran KLB tersebut.

Kemudian yang paling heboh adalah peristiwa AHY mengupload foto bersama Prabowo Subianto melalui Mpo88 dimedia sosial. Tidak sedikit orang yang memiliki argumen bahwa Prabowo akan berpasangan dengan AHY dalam pemilihan Presiden tahun 2024. Lalu di antara prediksi pasangan Prabowo-Puan dan Prabowo-AHY masih terus menjadi pertanyaan besar di benak nitizen. Salah satunya adalah duet mana yang akan menjadi kenyataan pada Pilpres 2024.

Kemungkinan Menurut Pakar

Pangi Syarwi Chinago selaku Direktur Eksekutif Voxpol Center Researh dan Consulting juga ikut buka suara. Menurutnya, ia mengatakan bahwa peristiwa politik indonesia memasuki babak baru. Terdapat kemungkinan bahwa PDIP dan Gerindra memiliki desain yang sama pada Pilpres 2024. Pangi menambahkan bahwa bisa saja Prabowo Subianto akan berpasangan dengan kader PDIP yang lain. Hal tersebut terlihat dari kedua partai yang semakin hari menjadi mesra.

Kemudian setelah itu, AHY akan masuk melalui koalisi poros baru. Namun dia berada di luar PDIP dan Gerindra. Kemungkinan besar terdapat minimal tiga pasang capres dan cawapres pada Pilpres 2024 mendatang,” buka Pangi Syarwi Chinago.

Selain itu, ia juga memprediksi bahwa pada Pilpres 2024 tidak akan ada persaingan head to head. Sama halnya yang telah terjadi pada Pilpres 2014 dan Pilpres 2019. Kemudian akan diikuti dengan tiga pasangan calon. Misalnya adalah Prabowo-Puan, Anies-AHY, dan Airlangga Hartato-Ridwan Kamil.

Selain itu, jika Anies-AHY maju, menurutnya juga tidak bisa dianggap sebelah mata. Sebab, keduannya merupakan para politikus yang tengah naik daun. Bahkan pasangan tersebut bisa saja menjadi lawan yang sebanding dengan Prabowo-Puan.

Tidak hanya itu, muncul juga nama Ganjar Pranowo yang tengah ramai diperbincangkan beberapa bulan terakhir. Bahkan elektabilitas Ganjar juga mengalami peningkatan. Gubernur Jawa Tengah tersebut berhasil mengalahkan Prabowo dan Anies dalam hal elektabilitas.

Hal seperti ini tidak bisa diartikan bahwa Prabowo tidak mendapat lawan tanding. Melainkan ini merupakan sinyal yang berbahaya. Sebab, elektabilitas Prabowo sudah klimaks. Bahkan banyak orang mengatakan, Prabowo hanya tinggal tunggu turunnya saja. Memang saat ini, elektabilitasnya masih berada di atas, karena belum ada deklarasi capres,” imbuh Pangi.

Sedangkan dengan Prabowo sendiri, sudah tiga kali maju dalam pilpres. Kemudian elektabilitasnya sudah deedlock, pasti sudah banyak yang jenuh di angka itu-itu saja. Namun Prabowo bisa memberi dobrakan pada calon wakilnya nanti dengan memberikan insentif elektoral tambahan.

Ia menambahkan bahwa Pilpres 2024 masih sangat jauh dan masih sangat dinamis. Namun peristiwa politik indonesia tidak ada yang tahu, kemungkinan besar apapun masih bisa terjadi. Salah satunya adalah adanya sejumlah capres yang tidak terduga. Sebab, hal seperti itu tidak terhitung secara matematika politik.

Tidak ada sama sekali orang yang menduga bahwa KH Ma’ruf Amin menjadi cawapres. Bahkan kini menjadi wapres Jokowi. Hal seperti ini merupakan realitas politik di ujung. Sudah menjadi hal yang lumrah peristiwa politik indonesia yang penting bermain di masa injury time. Sebab, di ujung waktu akan memberi sebuah kejutan politik secara ekstrem yang masuk ke peta politik itu sendiri,” jelas Pangi.

Kata Adi Prayitno

Direktur Eksekutif Parameter Politik Indonesia, Adi Prayitno juga ikut mengakui bahwa saat ini sudah masuk pada kontesisasi pilpres 2024. Ia meyakini bahwa sudah ada memang beberapa tokoh yang dipasang-pasangkan untuk pilpres mendatang.

Salah satunya adalah Prabowo-Puan. Namun, ia juga memiliki keyakinan apabila Prabowo bisa saja berpasangan dengan AHY nanti. Menurutnya, jika keduanya dipasangkan sebenarnya sama-sama ideal. Keduannya sama-sama memiliki plus dan minus.

Prabowo dengan Puan atau Prabowo dengan AHY, sebenarnya semuanya sama-sama ideal,” buka Adi Prayitno.

Ia menambahkan bahwa dari kedua pasangan tersebut memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Menurutnya, setiap pasangan memiliki cirinya masing-masing. Hal itu yang menjadi dobrakan baru bagi pasangan tersebut.

Apabila dipasangkan dengan Puan, plusnya adalah Prabowo akan mendapat dukungan yang besar dari partai pemilu, yakni PDI Perjuangan. Kemudian minusnya adalah, Puan masih elektabiliitas yang rendah.

Sedangkan apabila dipasangan dengan AHY, akan membuat sebuah gebrakan baru dalam dunia politik. Sebab Prabowo dan AHY sama-sama memiliki elektabilitas yang besar. Akan tetapi, minusnya adalah Partai Demokrat merupakan partai menengah. Sehingga, kedua partai yang mengusung pasangan ini memiliki daya tawar yang rendah.

Namun, koalisi pada Pilpres di 2024 tidak hanya bicara tentang elektabilitas. Namun juga dengan hal-hal penting lainnya, termasuk dengan chemistry.

Bahkan saat ini, Prabowo terlihat sangat intim kedekatannya dengan PDIP. Sudah menjadi hal yang wajar peristiwa politik indonesia seperti ini. Kemudian publik menduga bahwa Prabowo akan berpasangan dengan Puan di 2024,” jelas Ady Prayitno.