Mitos Vaksin Covid-19 yang Tak Boleh Dipercaya

York Sunday News – Jika kamu saat ini sedang mencari berbagai info terkait vaksin Covid-19, kamu jangan sampai langsung mencerna mentah-mentah seluruh info yang diterima di sosial media. Kamu harus selalu mencoba memverivikasi dari sumber lain yang menurutmu lebih terpercaya atau kredibel. Misalnya saja berbagai mitos vaksin Covid-19 yang banyak beredar luas di tengah masyarakat.

Sudah bukan menjadi rahasia lagi bahwa sekarang ini banyak muncul mitos yang beredar soal Covid-19. Termasuk program vaksinasi yang sedang dilakukan oleh pemerintah. Supaya tidak terjebak ke dalam hal-hal yang menyesatkan mengenai vaksin Covid-19 ini, berikut adalah beberapa mitos yang jangan sampai kamu percaya.

Mitos Vaksin Covid-19 di Tengah Masyarakat

  • Vaksin Bisa Merubah DNA Seseorang

Faktanya adalah, vaksin pertama yang diberikan oleh otorisasi pemakaian darurat mengandung messenger RNA [mRNA], yakni zat yang memerintahkan sel agar bisa membuat ‘protein lonjakan’ yang telah ditemukan di virus Covid-19.

Saat sistem kekebalan mengenali protein tersebut, maka dia bakal membangun respon kekebalan lalu menciptakan antibodi agar mengajari tubuh bagaimana caranya melindungi diri lewat infeksi suatu saat nanti. MRNA tak pernah masuk kedalam inti sel, yang menjadi lokasi DNA [materi genetik] disimpan.

  • Kurang Aman, Sebab Dikembangkan dengan Waktu yang Relatif Cepat

Faktanya, vaksin ini terbukti aman serta efektif. Meski dikembangkan dengan waktu yang tergolong singkat, vaksin sudah memenuhi seluruh standar keamanan. Tak ada satupun proses yang dilewati.

  • Memicu Kemandulan Wanita

Faktanya, ahli mengatakan bahwa vaksinasi tak akan mempengaruhi kesuburan. Mitos yang bermunculan berawal dari info di sosial media yang memperlihatkan jika vaksin akan melatih tubuh menyerang syncytin-1, yakni protein didalam plasenta yang bisa mengakibatkan wanita jadi mandul.

  • Efek Samping Buruj Terjadi Setelahnya

Faktanya, sejumlah peserta uji vaksin memang menunjukkan beberapa efek sampingnya, termasuk slot online deposit pulsa sakit kepala, kedinginan, dan nyeri otot. Tapi, efek samping parah semisal reaksi alergi pada bahan yang dipakai didalam vaksin sangat jarang muncul. Oleh sebab itu, orang yang memiliki riwayat alergi parah tak boleh mendapat vaksinasi.

  • Tak Perlu Menggunakan Prokes Pasca Mendapat Vaksin

Faktanya, menjaga jarak, cuci tangan, dan menggunakan masker harus selalu dilakukan dimanapun hingga terbentuk herd immunity. Nah, herd immunity baru ini akan terbentuk kalau jumlah vaksin mencapai sekitar 70% dari keseluruhan penduduk Indonesia. Ini sama saja dengan vaksinasi 363 juta atau 181,5 juta dosis.

  • Tak Perlu Divaksin Pasca Terkena Covid-19

Faktanya, walau sudah pernah terkena virus Covid-19, vaksin memberi manfaat lainnya. Hal ini bergantung terhadap sistem imbun masing-masing orang.

  • Setelah di Vaksin, Tes Memperlihatkan Postif Covid-19

Faktanya, diagnosa Covid-19 dilakukan dengan cara memeriksa sampel pada sistem slot online terpercaya. Didalam vaksin tak ada virus yang hidup, sehingga vaksin tak akan mempengaruhi hasil test yang dilakukan.

  • Terinfeksi Corona Pasca Melakukan Vaksinasi

Faktanya, kamu tak akan terinfeksi Covid-19 melalui vaksin, sebab didalam vaksin tidak terdapat virus hidup.

  • Kalau Tidak Beresiko, maka Tidak Membutuhkan Vaksin

Terlepas dari resiko yang muncul, kamu masih bisa tertular infeksi serta berpotensi menyebarkannya pada orang lain. Maka dari itu, penting sekali untuk kita melakukan vaksin. Pemberian vaksin ini tidak hanya dilakukan agar bisa melindungi diri, namun juga keluarga ataupun kemunitas sosial.

Itu adalah sejumlah mitos vaksin Covid-19 yang jangan sampai kamu percaya. Kamu tidak boleh tertipu dengan mitos diatas, sebab hanya menakut-nakuti banyak orang tanpa ada bukti ilmiah.