Beberapa Jenis Obat Doping Yang Dilarang

Yorksundaynews – Kemeriahan PON XX Papua 2021 tentunya sudah mewabah ke semua penjuru Indonesia. Mungkin anda juga orang yang begitu antusias menantikan perhelatan para atlet di Event ini, terutama kiprah para atlet kebanggaan daerahmu.


Berbicara tentang acara Olahraga, satu hal yang lumayan menarik untuk dibahas ialah tentang penggunaan doping di kalangan atlet. Tahukah kamu jika banyak jenis obat doping olahraga yang acap kali digunakan atlet, lho!

Lalu, apa itu doping? Apa saja kategori obat doping? Serta mengapa doping dilarang dikonsumsi para atlet pada pertandingan?

Apa itu doping? Mengacu pada UU Republik Indonesia nomer tiga Tahun 2005 perihal Sistem Keolahragaan Nasional, doping merupakan penggunaan zat serta/atau metode terlarang guna meningkatkan prestasi olahraga.

Penggunaan doping dihentikan dalam olahraga karena dapat memanipulasi performa dan kemampuan seseorang atlet. Karena itu bisa merusak fair play pada olahraga. Bukan di Indonesia saja, pelarangan konsumsi doping berlaku di tiap negara.

Beberapa Jenis Obat Doping Olahraga

Sesuai dengan arti doping di UU yang disebutkan tadi, doping bisa berupa penggunaan juga konsumsi zat atau metode yang ilegal. Ada 2 komponen doping di bidang olahraga, yaitu penggunaan zat dan metode tertentu. 

 
Mengacu pada situs resmi WADA, terdapat 6 jenis obat doping olahraga yang tidak boleh digunakan, baik ketika kompetisi atau tidak :

  • Jenis zat pertama ialah agen anabolik, termasuk steroid. Steroid anabolik ialah obat yang meniru hormon testosteron dalam pembentukan otot. 
  • Jenis ke 2 selanjutnya adalah Agen Slot obat beta-2 agonis, seperti salbutamol, fomoterol, atau terbutaline. Pada dunia medis, obat ini dipergunakan unutk terapi asma atau penyakit paru.

Namun pada doping, beberapa jenis obat-obatan ini bermanfaat unutk memperlebar jalan napas. Sehingga dapat meningkatkan kualitas pernapasan. Atlet yang memakai obat ini guna terapi asma wajib mengisi formulir yang khusus untuk klarifikasi di waktu investigasi doping.

  • Jenis atau kategori ke 3 merupakan modulator hormon serta metabolik, seperti exemestane, letrozole, atau tamoxifen. Namun di dunia medis, obat-obatan tadi digunakan guna terapi pada penederita kanker payudara. 

Tetapi pada kasus penggunaan doping, efek samping supresi estrogen asal obat-obatan tersebut yang dimanfaatkan. Pengaruh ini dimanfaatkan antara lain guna menaikkan fitur maskulin di atlet perempuan.

Namun pada atlet pria juga sering menggunakan doping dari golongan ini lho, yakni untuk menurunkan efek samping dari gynecomastia atau pembesaran payudara di pria, dikarenakan mengonsumsi doping kategori anabolic steroid (golongan 1) sebelumnya.

  • Jenis atau kategori Empat merupakan obat diuretik, Contohnya furosemide, spironolakton, serta hydrochlorthiazide. Di dunia medis, sebenarnya obat – obatan ini dipergunakan di beberapa kondisi yang berhubungan dengan jantung serta pembuluh darah. 

Contohnya di perkara gagal jantung atau tekanan darah tinggi. Obat-obatan ini bekerja meningkatkan pengeluaran air di tubuh melalui urin. 

Namun di kasus doping, jenis obat – obatan kategori ini digunakan guna menurunkan bobot badan dan juga membuang sisa atau residu jenis obat doping olahraga lain melalui urin.

Sehingga nantinya pada saat atlet ada pemeriksaan tidak terdeteksi pernah mengonsumsi doping.

  • Jenis Obat ke 5, disebut dengan kategori atau Golongan S0 oleh WADA (World Anti-Doping Agency). Yaitu Jenis obat yang masih belum memiliki izin untuk diedarkan. Biasanya obat atau zat yang masih dalam tahap uji.

World Anti-Doping Agency (WADA) merupakan organisasi internasional yang mempunyai misi membersikan dunia olahraga dari praktek konsumsi doping. 

Untuk menjalankan tugas mengawasi doping pada olahraga, Indonesia membuat sebuah forum atau lembaga yang diberi nama Lembaga Anti-Doping Indonesia atau LADI. Lembaga ini bertugas melakukan sebuah kegiatan serta program antidoping, kemudian membahas hasilnya kepada Lembaga WADA.

Itulah beberapa Jenis Obat Doping Olahraga yang dilarang di dalam dunia olahraga. Pada kondisi medis tertentu, obat tersebut memang berguna untuk terapi atau pengobatan, namun acap kali malah disalah gunakan. Semoga PON XX Papua 2021 ini bebas doping dan selalu sehat untuk kalian para atlet Indonesia.